Pencapaian Tahun 2022 yang Positif, Tumbuhkan Semangat Baru pada Tahun 2023

Jakarta, STABILITASBISNIS.COM – Menyongsong perkembangan pasar modal Indonesia yang lebih baik ke depannya, Perdagangan Saham tahun 2022 rencananya akan ditutup Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) K.H. Ma’ruf Amin, serta disaksikan oleh seluruh pelaku pasar secara hybrid pada Jumat (30/12). Sepanjang tahun 2022, meskipun dihadapkan oleh sejumlah tantangan global, pasar modal Indonesia berhasil menorehkan beberapa pencapaian yang positif.

Sementara itu, aktivitas perdagangan turut membukukan kenaikan yang signifikan dibandingkan akhir tahun lalu. Rata – Rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) tercatat Rp14,7 triliun atau naik 10 persen dibandingkan posisi akhir tahun lalu yakni Rp13,4 triliun. Selanjutnya, frekuensi transaksi harian juga telah mencapai angka 1,31 juta kali transaksi atau naik 1,1 persen dibandingkan akhir tahun 2021 dan merupakan nilai tertinggi jika dibandingkan dengan Bursa di Kawasan ASEAN sepanjang empat tahun terakhir. Pertumbuhan juga tercermin pada rata – rata volume transaksi harian yang telah mencapai 23,9 miliar saham atau naik 16 persen dibandingkan akhir tahun lalu.

Di tahun 2022, minat perusahaan untuk memobilisasi dana jangka panjang melalui pasar modal juga masih terus meningkat. Hingga 28 Desember 2022, telah terdapat 59 perusahaan tercatat yang melakukan Initial Public Offering (IPO) dan mencatatkan sahamnya di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), sehingga sebanyak 825 perusahaan telah mencatatkan sahamnya di BEI. Total fund-raised IPO saham mencapai Rp33,06 triliun. Pencapaian ini merupakan yang tertinggi sejak swastanisasi Bursa Efek pada tahun 1992. Selain itu, pencapaian ini juga merupakan IPO terbanyak di Kawasan ASEAN selama 4 tahun berturut-turut sejak tahun 2019.

Pencapaian positif turut tercermin dari meningkatnya minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia. Total jumlah investor di pasar modal Indonesia per 28 Desember 2022 telah meningkat 37,5 persen menjadi 10,3 juta investor dari sebelumnya 7,48 juta investor per akhir Desember 2021. Jumlah ini meningkat hampir 9 kali lipat dibandingkan tahun 2017. Selain itu, lonjakan pertumbuhan jumlah investor ritel juga turut berdampak terhadap dominasi investor ritel terhadap aktivitas perdagangan harian di BEI yang mencapai 44,9 persen.

Peningkatan jumlah investor juga merupakan hasil dari upaya BEI dan stakeholders dalam melakukan sosialisasi, edukasi, serta literasi kepada masyarakat. Hingga 28 Desember 2022, di seluruh Indonesia telah berlangsung 11.253 kegiatan edukasi, dengan jumlah peserta mencapai lebih dari 1,7 juta orang. Dari seluruh kegiatan tersebut, lebih dari 74 persen kegiatan dilakukan secara daring, begitu juga aktivitas sosialisasi kepada stakeholders lainnya.

Sepanjang tahun 2022, BEI telah meluncurkan sejumlah produk dan layanan baru, di antaranya: 1) Notasi Khusus “N” yakni Notasi Khusus untuk perusahaan tercatat yang menerapkan saham dengan hak suara multipel pada akhir Januari 2022; 2) integrasi e-Registration dengan Sistem Pengelolaan Rekening Terintegrasi (SPRINT) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Februari 2022; 3) penutupan kode domisili investor pada Juni 2022; 4) produk baru sebagai tambahan alternatif produk investasi bagi investor yakni Waran Terstruktur pada 19 September 2022; 5) Indeks IDX Sharia Growth pada Oktober 2022; 6) Indeks IDX LQ45 Low Carbon Leaders pada November 2022; 7) ESG Scoring pada Perusahaan Tercatat; 8) Papan Pencatatan baru yakni Papan Utama – Ekonomi Baru. Papan pencatatan ini memiliki sejumlah persyaratan seperti menggunakan teknologi untuk menciptakan inovasi produk atau jasa yang meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi; 9) Peluncuran Papan Utama – Ekonomi Baru ini disertai dengan peluncuran Notasi Khusus baru untuk mengidentifikasi perusahaan yang masuk ke dalam papan tersebut yakni Notasi Khusus “I” dan “K”.

Baca Juga:  Kinerja Keuangan Berkelanjutan BCA Berbuah Berbagai Penghargaan

Selain itu, BEI juga kembali meraih penghargaan The Best Islamic Capital Market 2022 pada Global Islamic Finance Awards (GIFA). Penghargaan ini berhasil diraih BEI secara berturut-turut sejak tahun 2019. Ditambah lagi, BEI juga diberikan predikat sebagai The Best Stock Exchange in Southeast Asia 2022 oleh Alpha Southeast Asia dengan penilaian yang komprehensif pada 12 Desember 2022. Predikat tersebut diberikan berdasarkan pelaksanaan kegiatan edukasi investor, penambahan jumlah investor serta perusahaan tercatat, pengembangan infrastruktur, peningkatan compliance level dari stakeholders, implementasi Good Corporate Governance (GCG) yang baik, implementasi manajemen risiko, peningkatan disclosure level sehingga dapat meningkatkan tingkat kepercayaan diri dari pelaku dan investor di pasar modal Indonesia. Seluruh pencapaian tersebut tentunya berhasil diraih atas bantuan dari OJK, Self-Regulatory Organization (SRO), serta seluruh stakeholders pasar modal Indonesia.

Terdapat pula sejumlah pencapaian dari anak perusahaan BEI, yaitu PT Pendanaan Efek Indonesia (PEI) yang telah resmi bergabung menjadi anggota PME dan Triparty REPO Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) pada 23 Februari 2022. Aplikasi TICMIEDU juga resmi diluncurkan pada 6 September 2022 sebagai bentuk solusi yang menawarkan kemudahan akses untuk mempelajari ilmu keuangan dan pasar modal. Selanjutnya, perlindungan pemodal oleh SIPF juga telah mengalami peningkatan, terlihat melalui Dana Perlindungan Pemodal (DPP) per November 2022 telah mencapai Rp261,91 miliar atau naik 11,06 persen dibandingkan akhir tahun lalu. Pefindo Biro Kredit juga menunjukkan pertumbuhan inquiry Laporan Perkreditan yang mencetak rekor tertinggi sejak perusahaan mulai beroperasi di tahun 2017. Pencapaian baru juga berhasil dicapai oleh IDX Channel yang semakin berperan dalam pengembangan pasar modal Indonesia ditandai dengan monthly active user (MAU) sudah mencapai 3 juta pada tahun 2022 atau naik 2 kali lipat dibandingkan tahun 2021. Kemudian, anak usaha di bidang Teknologi Informasi, yakni IDXSTI telah berhasil meningkatkan jenis solusi IT yang dapat ditawarkan kepada seluruh stakeholders pasar modal. Selanjutnya, PEFINDO juga masih memimpin sebagai Lembaga Pemeringkat Efek di Indonesia terlihat dari pangsa pasar di tahun 2022 yang mencapai 81,09 persen dari total pemeringkat obligasi korporasi domestik atau setara dengan Rp132,64 triliun.

Kliring Penjaminan Efek Indonesia

Sebagai salah satu infrastruktur di pasar modal Indonesia, KPEI senantiasa mendukung pengembangan pasar modal di Indonesia dengan melaksanakan berbagai inisiatif. Di tahun 2022, KPEI telah meningkatkan kapasitas kliring produk ekuiti, re-engineering proses pada sistem e-CLEARS, mengaktifkan layanan transaksi triparty repo, peningkatan kapasitas e-IPO KPEI, terimplementasinya shortcut settlement, implementasi kliring Waran Terstruktur, dan PME Bilateral. Pada tanggal 5 Desember 2022, KPEI dianugerahi penghargaan sebagai The Best Exchange Transactions Clearing Services 2022 in Southeast Asia oleh majalah Capital Finance International (CFI.co), sebuah portal jurnal cetak dan online internasional berbasis di London, yang berperan menganalisa isu-isu dan peristiwa terkini mengenai pasar global, yang berpengaruh signifikan terhadap pasar.

Baca Juga:  Laris Manis, Right Issue BRI Tercatat Terbesar di Asia Tenggara

Dari sisi operasional kliring transaksi bursa, selain terdapat pencapaian baru kenaikan RNTH, rata-rata nilai penyelesaian dan volume penyelesaian transaksi bursa harian sampai dengan 20 Desember 2022 adalah Rp14,90 triliun, Rp5,34 triliun, dan 8,10 miliar lembar saham, dimana terdapat peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yaitu masing-masing Rp4,54 triliun, dan 6,26 miliar lembar saham. Untuk rata-rata efisiensi nilai penyelesaian, dan volume penyelesaian transaksi bursa harian, tercatat 57 persen, dan 64 persen. Sedangkan nilai transaksi PME sampai dengan 20 Desember 2022 sebesar Rp347,13 miliar dengan volume 939 juta lembar saham.

Untuk mengantisipasi kegagalan penyelesaian transaksi bursa dan mengelola risiko kredit, KPEI melakukan pengelolaan agunan Anggota Kliring (AK) serta nasabahnya, dengan total Nilai Agunan per Desember 2022 mencapai Rp32,21 triliun yang terdiri dari agunan online sebesar Rp24,43 triliun dan agunan offline sebesar Rp7,77 triliun. Sampai dengan 20 Desember 2022, total nilai Dana Jaminan tercatat senilai Rp7 triliun, mengalami kenaikan dibandingkan posisi akhir tahun lalu yang senilai Rp6,21 triliun. KPEI melakukan penyisihan cadangan jaminan berdasarkan persetujuan RUPS Tahunan pada 22 Juni 2022 lalu, yaitu sebesar 7,5 persen dari Laba Bersih KPEI tahun 2021 atau senilai Rp16,9 miliar, sehingga total nilai Cadangan Jaminan yang dikelola oleh KPEI pada akhir Desember 2022 mengalami kenaikan menjadi Rp181,44 miliar. KPEI secara efektif telah menjalankan fungsinya sebagai lembaga pengelola risiko atas setiap transaksi dan proses penyelesaian transaksi. Hal ini tercermin dari tidak adanya kasus gagal bayar sampai dengan akhir Desember 2022.

Untuk rencana strategis tahun 2023, KPEI telah menyusun beberapa program utama, di antaranya program untuk mendukung kegiatan transaksi bursa seperti pengembangan kliring untuk perdagangan karbon, dukungan sistem e-IPO untuk Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS), dan dukungan untuk Kontrak Opsi Indeks Saham. Selain itu KPEI juga akan melakukan pengembangan produk untuk CCP over-the-counter (OTC) Derivatif SBNT, pengembangan Sistem Collateral Management Terintegrasi (untuk transaksi OTC SBNT, transaksi Bilateral, dan Triparty Repo), serta pengembangan portal keanggotaan pasar uang. KPEI juga akan melakukan program-program pengembangan untuk penyempurnaan infrastruktur teknologi khususnya untuk aplikasi e-CLEARS.

Kustodian Sentral Efek Indonesia

PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatatkan beberapa pencapaian berdasarkan kinerja operasional maupun data statistik sepanjang tahun 2022. Jumlah investor pasar modal Indonesia yang tercatat di KSEI sampai dengan 28 Desember 2022 telah mencapai 10,3 juta investor atau meningkat 37,53 persen dari akhir tahun 2021 yang sebelumnya berjumlah 7,49 juta. Jumlah yang telah mencapai dua digit tersebut telah tercapai sejak November 2022 lalu. Jumlah tersebut terdiri dari investor pemilik saham, surat utang, reksa dana, surat berharga negara (SBN) dan jenis efek lain yang tercatat di KSEI, dengan komposisi 4,44 juta investor memiliki aset saham, surat utang dan efek lainnya, 9,59 juta investor memiliki aset reksa dana dan 830 ribu investor memiliki aset SBN. Pertumbuhan jumlah investor di wilayah timur, yaitu Papua dan Maluku mengalami pertumbuhan sekitar 40 persen dan menjadi pertumbuhan tertinggi dibandingkan wilayah lainnya.

Baca Juga:  Perkenalkan Mobil Listrik Di Indonesia, ‘Genk’ BUMN Mulai Dari Segmen Niaga

Usia investor pasar modal Indonesia yang didominasi generasi Milenial dan Gen-Z menjadi salah satu alasan maraknya pengembangan serta proses digitalisasi di pasar modal selama beberapa waktu terakhir. Peran platform financial technology (fintech) semakin penting untuk investasi di pasar modal. Hal ini dibuktikan dengan data KSEI bahwa 78,17 persen investor memiliki rekening investasi di selling agent fintech. Jumlah tersebut didominasi oleh investor individu sebanyak 99,63 persen. Adapun frekuensi transaksi subscription oleh selling agent fintech mendominasi transaksi reksa dana dengan peningkatan sebesar 17 persen dari 21,63 juta juta pada tahun 2021 menjadi 18,48 juta per 26 Desember 2022.

Pencapaian KSEI lainnya berhubungan dengan upaya untuk menjaga reputasi KSEI selaku institusi yang kredibel. KSEI secara berkala melakukan kegiatan survei kepuasaan pelanggan untuk mengetahui tingkat kepuasan pemakai jasa KSEI maupun masukan bagi perbaikan kinerja KSEI. Pada pelaksanaan survei kepuasaan pelanggan tahun 2022, KSEI memperoleh skor lebih dari 83,02 persen atau dapat diinterpretasikan bahwa pemakai jasa KSEI sangat puas dengan layanan jasa yang diberikan KSEI.

Di awal tahun 2022, KSEI menjadi satu-satunya anggota BI-FAST yang bukan merupakan institusi perbankan. KSEI juga meraih gelar sebagai Kustodian sentral terbaik di Asia Tenggara untuk yang kelima kalinya. Sebelumnya KSEI telah meraih penghargaan yang sama pada 2016, 2018, 2019, dan 2021. Gelar Kustodian sentral terbaik di Asia Tenggara berhasil diperoleh KSEI dari Alpha South East Asia atas inovasi yang dilakukan sepanjang tahun 2022 serta rencana pengembangan pasar modal Indonesia di masa mendatang. Penghargaan lain diperoleh KSEI dari Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai apresiasi dari implementasi aplikasi pertukaran informasi data elektronik. Selain itu, KSEI bersama dengan Indonesia Securities Investor Protection Fund (SIPF) berhasil meraih rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk Login Aplikasi Pasar Modal di Kota Terbanyak. Total terdapat 11.317 akun yang login ke fasilitas Acuan Kepemilikan Sekuritas KSEI (AKSES KSEI) di 99 kota.

Berbagi Yuk!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *